0

Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin Yang Amanah

Sabtu, 22 Maret 2008

Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin Yang Amanah

Alkisah, Umar bin Abdul Aziz (salah seorang penguasa di antara penguasa-penguasa Dinasti Umawiyah), sebelum menjadi khalifah, setiap hari mengganti pakaian lebih dari satu kali. Ia memiliki emas dan perak, pembantu dan istana, makanan dan minuman, serta segala yang ia inginkan dan harapkan berada dalam genggamannya.

Namun, ketika ia memangku kekhalifahan dan menjadi penanggung jawab urusan kaum Muslimin, ia meninggalkan semua itu. Sebab, ia ingat malam pertama di dalam kubur. Umar bin Abdul Aziz berdiri di atas mimbar di hari Jumat. Ia kemudian menangis. Ia telah dibaiat oleh umat Islam sebagai pemimpin. Di sekelilingnya terdapat para pemimpin, menteri, ulama, penyair, dan panglima pasukan. Ia berkata, ''Cabutlah pembaiatan kalian!'' Mereka menjawab, ''Kami tidak menginginkan selain Anda.'' Ia kemudian memangku jabatan itu.

Tidak sampai satu minggu kemudian, kondisi tubuhnya sangat lemah dan air mukanya telah berubah. Bahkan, ia tidak mempunyai baju kecuali hanya satu. Orang-orang bertanya kepada istrinya tentang apa yang terjadi pada khalifah. Istrinya menjawab, ''Demi Allah, ia tidak tidur semalaman. Demi Allah ia beranjak ke tempat tidurnya, membolak-balik tubuhnya seolah tidur di atas bara api. Ia mengatakan, ''Aku memangku urusan umat Muhammad SAW, sedangkan pada hari kiamat aku akan dimintai tanggung jawab oleh fakir, miskin, anak-anak yatim, dan para janda.''

Begitulah seharusnya akhlak seorang pemimpin. Karena pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka (HR Abu Na'im). Apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz patut dicontoh oleh para pemimpin di negeri ini. Rasulullah pernah berkata kepada sahabat janganlah menuntut suatu jabatan. Lalu beliau bersabda, ''Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati), dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.'' (HR Ath-Thabrani).

Menjaga amanat itu sangat sulit. Para penjaga amanah harus siap berhadapan dengan para 'petualang' yang memikirkan kepentingan duniawi saja. Namun, dia akan memegang kebenaran, meski dimusuhi orang-orang yang merasa kepentingan pribadinya dirugikan. Sebagaimana pesan Rasulullah, bahwa tiada beriman orang yang tidak memegang amanat. Semoga kita menjadi golongan 'para penjaga', sekecil apa pun amanah yang dipercayakan di pundak kita.

Sumber: Republika - Jumat, 15 Juni 2007

0 Responses to "Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin Yang Amanah"